Metalgear Music – Vokalis Slaughter To Prevail, Alex Terrible, akhirnya angkat bicara dan langsung all out. Lewat pernyataan panjang yang super personal, ia ngebongkar habis soal citra dirinya yang selama ini keburu dicap sangar, brutal, dan “pria paling keras di metal” padahal, menurut dia, itu jauh dari realita hidupnya di luar panggung.
Nama Alex Terrible dari Slaughter To Prevail ini memang identik dengan visual ekstrem. Mulai dari bekas luka di wajah yang ia buat sendiri, ketertarikannya pada bare-knuckle fighting, sampai momen viral gulat beruang yang bikin jagat maya heboh. Kombinasi itu bikin banyak orang mikir Alex lagi membangun persona macho berlebihan.
Tapi versi Alex? Semua asumsi itu salah kaprah.
“Saya menangis ketika menonton drama, dan saya benar-benar takut dengan banyak hal di dunia ini,” tulisnya. “Aku tidak tangguh.”

Menariknya, Alex juga cerita kenapa ia masih rajin baca komentar netizen sesuatu yang biasanya dihindari musisi. Alasannya bukan cari ribut, tapi karena dia genuinely pengen tahu gimana orang merespons musik Slaughter To Prevail. Kritik soal musik bandnya yang dibilang “membosankan” atau kebanyakan breakdown pun ia anggap wajar.
“Setiap orang punya selera musik masing-masing,” tulisnya. “Kami memainkan genre tertentu… Kalau kamu nggak suka, bukan berarti musik kami buruk. Itu cuma berarti bukan buat kamu.”
Baca Juga: Vokalis Counterparts Marah! Buntut Kelakuan Broken Avenue, Band AI di Spotify
Buat Alex, Slaughter To Prevail bukan band yang mau dikurung pakai aturan atau ekspektasi orang. Mereka jalan pakai insting sendiri, meski sadar betul kalau setiap karya yang dilempar ke publik pasti bakal dikomentari, dihakimi, bahkan dihujat.
Bekas Luka di Wajah Alex Terrible
Bagian paling sering disorot tentu soal penampilannya. Banyak yang nuding bekas luka dan keseluruhan look Alex cuma gimmick biar kelihatan lebih garang. Tuduhan itu ia bantah mentah-mentah. Menurutnya, visual panggung adalah bagian dari seni, sama pentingnya dengan musik.

“Saya memperlakukan penampilan saya sama seperti seni saya,” tulisnya. “Saya bereksperimen. Saya ingin terlihat ‘keren’ di atas panggung, seperti karakter video game. Aku hanya anak kecil yang bermain dengan mainannya.”
Ia juga menegaskan bahwa persona panggung sama sekali nggak ada hubungannya dengan kehidupan pribadinya. Bahkan, Alex cukup frontal menanggapi orang-orang yang meremehkan pilihan hidup dan proses yang ia jalani.
“Kebanyakan dari kalian yang bilang saya cuma berpura-pura tangguh tidak melakukan apa yang saya lakukan, dan tidak akan pernah melakukannya,” tulisnya. “Karena kamu tidak punya nyali.”
Baca Juga: Motörhead dan 150 Botol Wiski Zanzibar Muncul dari “Tongkrongan”
Hidup Susah di Masa Lalu
Alex kemudian menyinggung masa kecilnya. Ia tumbuh di permukiman kecil di Rusia, dengan kondisi hidup yang keras dan jauh dari kata nyaman. Tapi ia menolak menjadikan masa lalu itu sebagai badge of honor atau alat buat merasa lebih unggul dari orang lain.

“Saya tidak pernah bangga akan hal itu, dan saya tidak pernah merasa lebih baik dari siapa pun,” tulisnya. “Saat banyak dari kalian berangkat ke sekolah dengan lapangan basket, saya mengisi cat dan gas korek di lokasi konstruksi yang ditinggalkan.”
Di balik semua image ekstrem itu, Alex menggambarkan dirinya sebagai pribadi yang “baik, sensitif, terbuka, lembut, dan naif.” Bekas luka di wajahnya, kata dia, nggak lebih dari ornamen visual posisinya sama kayak tato.
“Kalau itu memicu kamu, mungkin kamu perlu bertanya pada diri sendiri kenapa,” tambahnya.
Dicap Fasis Gara-gara Dark jokes
Ia juga menanggapi tudingan yang lebih serius, mulai dari dicap fasis, homofobik, sampai dituduh mendukung genosida. Semua ia bantah tegas. Menurut Alex, banyak kesalahpahaman muncul karena humornya yang super gelap.
“Aku hanya punya humor yang sangat gelap,” tulisnya.
Baca Juga: Vokalis Zulu Buka Suara Atas Tuduhan Kasus Kekerasan
Masalahnya, humor gelap di internet sering kehilangan konteks dan gampang disalahartikan. Alex sendiri mengakui bahwa pandangannya di masa lalu sempat bikin dia berurusan dengan hukum bahkan hampir dipenjara. Meski begitu, ia menegaskan bahwa kecintaannya pada tanah kelahirannya nggak bisa disederhanakan dengan label hitam-putih.
Di penutup, Alex menyadari satu hal yang pahit tapi nyata, internet suka mereduksi manusia jadi karakter satu dimensi. Tapi di sisi lain, kontroversi juga bikin namanya dan Slaughter To Prevail terus dibicarakan.
“Sangat mudah membentuk opini tentang seseorang hanya dari kata-kata atau gambar di internet,” tulisnya. “Dan jujur saja, itu menguntungkan saya orang-orang jadi membicarakan dan mendiskusikan saya.”
Di antara panggung, persona, dan realita, Alex Terrible kelihatannya sudah mantap dengan pilihannya tetap jadi dirinya sendiri, apa pun risikonya termasuk disalahpahami.