Menuju Panggung Internasional, Cari Booking Agent atau Schedule Dulu? Ini Penjelasannya

Metalgear Music – Hampir semua band terutama yang tumbuh dari skena underground punya mimpi yang sama, suatu hari bisa tour ke luar negeri. Main di Eropa, satu panggung dengan band-band hebat di sana, lalu pulang dengan cerita panjang dan jual merchandise sampai ludes. Tapi di balik mimpi itu, selalu ada satu pertanyaan yang sering bikin band berhenti di tengah jalan, salah satunya kebingungan harus cari booking agent dulu, atau bikin jadwal tur sendiri dulu?

Jawaban paling jujurnya adalah tergantung band itu sudah sejauh apa melangkah. Di titik inilah peran booking agent sering disalahartikan. Banyak yang mengira booking agent adalah jalan pintas menuju panggung internasional, padahal kenyataannya tidak sesederhana itu.

Booking agent bukan event organizer, bukan manajer band, dan jelas bukan promotor. Tugas utamanya adalah menjual band ke panggung yang tepat. Mereka bekerja sebagai penghubung antara band dan jaringan venue atau promotor, baik lintas kota maupun lintas negara.

DF Booking adalah Booking Agent asal Jerman yang mengatur tour Viscral, Visceral Disgorge dan 9 Dead tahun 2025.

Booking agent yang serius paham betul pasar, tahu band ini cocok main di mana, bareng siapa, dan di skena apa. Mereka juga mengurus negosiasi fee, menentukan tanggal, menyusun routing tur supaya masuk akal secara logistik, dan memastikan band tidak tumbang sebelum tur selesai.

Singkatnya, booking agent adalah jembatan bukan fondasi.

Baca Juga: Alex Terrible, Slaughter To Prevail Ngaku Gaya Sangar Cuma Pencitraan

Booking Agent Butuh “Band yang Siap”

Masalahnya, banyak band berharap booking agent bisa membangun semuanya dari nol. Padahal realitanya, booking agent tidak bekerja dengan band yang masih “kosong”. Mereka butuh modal dasar yang jelas.

Band setidaknya harus sudah punya rilisan resmi, baik EP maupun album, identitas genre yang tegas, rekam jejak manggung yang nyata, serta materi promosi yang rapi seperti EPK, live video, atau liputan media dan punya minat pasar yang sesuai.

Tanpa itu semua, hampir pasti band akan dianggap belum siap dan hanya akan mendapat respons dingin.

Viscral saat tampil di Munich, Jerman tahun 2025.

DIY Tour Sebagai Langkah Strategis

Di tahap awal, justru scheduling mandiri atau DIY tour bukan hal yang salah bahkan sering kali jadi langkah paling realistis. Banyak band internasional yang sekarang dianggap besar memulai karier tur mereka dengan cara nekat kayak gitu tapi tetap terukur.

Mereka mengirim pesan ke venue satu per satu, menghubungi band lokal luar negeri untuk tukeran gigs, main tanpa bayaran, bahkan kadang harus nombok. Tidur di lantai venue atau rumah kenalan jadi hal biasa. Tujuan utamanya bukan uang, melainkan membangun jejak internasional yang nyata.

Dari tur mandiri itulah band mulai punya bukti konkret. Mereka bisa bilang pernah tour ke beberapa negara, pernah memainkan sekian show dalam satu routing, dan punya dokumentasi panggung yang bisa dipertanggungjawabkan. Semua ini menjadi “nilai jual” yang sangat penting ketika band mulai melirik booking agent secara serius. Tanpa rekam jejak tersebut, pembicaraan soal booking agent biasanya hanya berhenti di wacana.

Baca Juga: Mariontopsy Siapkan Album Debut “O Luna Vile” Dirilis Label Spanyol!

Booking Agent dan Band Saling Membutuhkan

Peran booking agent baru terasa maksimal ketika band sudah benar-benar layak dijual. Saat band punya riwayat tur regional atau internasional, angka streaming yang masuk akal untuk niche mereka, serta nama yang mulai dikenal di skena tertentu, booking agent bisa bekerja jauh lebih strategis. (Di lain kasus justru booking agent bisa mengundang band tersebut jika mereka menilai band yang mereka tuju sudah siap dan layak, tapi belum tentu semua band bisa mendapatkan kesempatan yang sama).

Sinergi label dengan band adalah salah satu bentuk kolaborasi nyata dalam sebuah tour band.

Di titik ini, mereka tidak lagi sekadar mencarikan panggung asal-asalan, tapi membantu menaikkan level venue, membuka pintu ke festival, menyusun routing yang lebih manusiawi, dan membebaskan band dari urusan administratif agar fokus ke performa.

Kesalahan paling umum yang sering terjadi adalah membalik urutan. Banyak band berpikir, “kita cari booking agent biar bisa tour Eropa.” Padahal yang lebih tepat adalah, “kita sudah siap tour Eropa, booking agent bantu bikin semuanya lebih optimal.”

Booking agent bukan mesin ajaib yang bisa menyulap band belum siap menjadi band internasional. Mereka adalah akselerator bagi band yang sudah berjalan, bukan penyelamat bagi band yang masih ragu melangkah.

Baca Juga: Trojan Racik Materi dengan Gitaris Baru, Nyawa Tambahan Jalankan Misi Penting

Dalam praktik paling ideal, perjalanan menuju panggung internasional adalah kombinasi dari keduanya. Band membangun nama lewat rilisan dan gigs, melakukan tur mandiri untuk mengumpulkan pengalaman dan reputasi, lalu mendekati booking agent dengan data konkret, apalagi diimbangi networking yang baik. Dari situ, tur menjadi lebih terarah, lebih berkelas, dan tidak sekadar nekat.

Jadi, cari booking agent atau schedule dulu? Untuk band yang masih baru atau berkembang, scheduling mandiri dan pendekatan DIY adalah jalan paling masuk akal. Sementara untuk band yang sudah matang dan siap ekspansi, booking agent bukan lagi pilihan tambahan, melainkan kebutuhan.

Panggung internasional bukan soal mimpi besar semata, tapi soal urutan langkah yang benar. Di dunia musik ekstrem, yang bisa bertahan bukan yang paling berani nekat, dan keren aja, melainkan yang paling siap secara strategi. Dan faktor lain yang memengaruhi adalah soal keberuntungan.

Total
0
Shares
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts