Jossi Bima, Satu Tenggorokan “Seribu Band” Vokalis Paling Brutal di Skena Death Metal Saat Ini

Metalgear Music – Kalau kamu aktif mantengin skena death metal dan sering ngerasa, “Lah ini vokalisnya dia lagi, dia lagi,”  besar kemungkinan itu memang Jossi Bima. Suaranya muncul di banyak rilisan, lintas subgenre, lintas negara, dan lintas timeline media sosial.

Bernama asli Jossi Bima Putra N. D., lahir di Pare, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, 24 Agustus 1995. Di usia 30 tahun, Jossi bukan cuma aktif di satu atau dua band, tapi terlibat di belasan proyek ekstrem sekaligus. Dari yang masih aktif, yang sedang jalan, sampai yang mungkin bahkan sudah bikin orang menyerah buat ngafalin satu per satu.

Band-band yang pernah dan sedang melibatkan Jossi antara lain: Invigorate, Dissanity, Innocent Decomposure, Perveration, Fornication Excrement, Paraplexia, Vertiginous, Divicious Execution, Preserved Agony, Reveals, Gorraw, Symphobia, Abhorrently, Infinite Misery, Evisceromamorphogenic dan bahkan masih ada beberapa nama lain yang, menurut pengakuannya sendiri, sempat lupa karena kebanyakan.

Jossi Bima juga kerap menjadi vokalis additional di beberapa band.

Banyaknya proyek ini bukan lahir dari ambisi ingin jadi pusat sorotan. Justru, Jossi melihat semua itu sebagai ruang bertemu, bertukar energi, dan membangun relasi di skena underground, termasuk dengan musisi dari luar negeri.

“Bukan ambisi sih, mungkin yang utama untuk menjalin koneksi dan relasi dengan berbagai teman di skena underground dunia, karena setiap project punya visi dan misi yang berbeda,” ujar Jossi.

Satu Tenggorokan, Banyak Karakter

Meski sering muncul di banyak band, Jossi sadar betul risiko dicap monoton atau terlalu “overexposed”. Karena itu, tiap proyek dia perlakukan sebagai dunia yang berbeda. Bukan cuma beda logo dan nama, tapi juga beda karakter vokal, pendekatan, dan atmosfer.

“Untuk setiap project, saya usahakan menerapkan karakter yang berbeda dibanding project yang sudah ada, cuma tetap dengan karakter tenggorokan yang diberikan Tuhan ke saya,” katanya sambil tertawa.

Menariknya, Jossi sendiri mengakui tidak bisa memainkan alat musik. Vokal jadi satu-satunya medium untuk melampiaskan hasrat bermusik. Dan justru di situ tantangannya bagaimana satu suara bisa hidup di banyak identitas tanpa saling menelan.

Baca Juga: Mariontopsy Siapkan Album Debut “O Luna Vile” Dirilis Label Spanyol!

Antara Idealisme dan Realita Produksi

Banyak yang mengira keterlibatan di banyak band adalah strategi profesional semata. Nyatanya, buat Jossi, idealisme dan realita berjalan barengan. Ia jujur soal pentingnya kerja sama dengan label bukan demi validasi nama, tapi soal hal yang lebih mendasar.

Banyak band yang terikat dengan Jossi Bima, telah dirilis oleh label internasional.

“Yang paling saya kejar dari label itu distribusi, kalau bisa worldwide, dan pendanaan. Karena biaya produksi karya itu besar, dan banyak band berhenti bukan karena kehabisan ide, tapi kehabisan uang,” jelasnya.

Setiap band punya tujuan yang relatif sama karya harus rilis, bisa didengar seluas mungkin, dan kalau semesta mendukung punya kesempatan tampil live atau bahkan tur. Tapi strategi tiap proyek tetap dibedakan, menyesuaikan karakter musik dan audiensnya.

Baca Juga: Stephanus Adjie Ungkap Rock In Solo 2026 Tidak Digelar di Benteng Vastenburg Lagi

Banyak yang Jalan Barengan, Kepala Ikut Berisik

Mengatur waktu di belasan proyek jelas bukan perkara ringan. Apalagi ketika dua sampai empat band aktif bersamaan rekaman, diskusi materi, revisi, hingga urusan non-teknis sering datang di waktu yang hampir bersamaan.

“Biasanya dua sampai empat project jalan bareng, dan pasti pusingnya barengan juga,” kata Jossi.

Benturan visi atau jadwal pernah terjadi. Tapi alih-alih memaksakan ego, Jossi memilih jalur diskusi. Mencari titik tengah supaya semua tetap jalan tanpa mengorbankan idealisme masing-masing band.

Sadar Diri Soal Overexposure

Soal kejenuhan audiens, Jossi tidak menutup mata. Ia tahu betul ada orang-orang yang mungkin sudah lelah melihat wajahnya terus muncul di timeline.

Jossi Bima memiliki beragam karakter vokal.

“Sukses buat saya itu karya bisa diterima dan disukai banyak orang, meskipun banyak juga yang muak karena timeline sosmednya penuh wajah saya,” ujarnya, setengah bercanda.

Baginya, sukses tidak harus berarti panggung besar atau angka streaming fantastis. Cukup ketika karya hidup, didengar, dan jadi bagian dari ekosistem skena itu sudah lebih dari cukup.

Baca Juga: Trojan Racik Materi dengan Gitaris Baru, Nyawa Tambahan Jalankan Misi Penting

Mengurangi, Tapi Tidak Menghilang

Ke depan, Jossi mengakui tidak akan selamanya berada di ritme seperti sekarang. Ada rencana untuk mengurangi beberapa proyek, meski belum tahu pasti berapa dan yang mana.

“Ke depannya mungkin saya akan mengurangi beberapa project karena sudah mulai pusing, tapi saya tetap ingin memberikan yang terbaik supaya nggak ada penyesalan di akhir,” tutupnya.

Di skena yang sering menuntut fokus ke satu identitas, Jossi Bima memilih jalur berbeda. Bukan untuk jadi yang paling sibuk, tapi untuk jadi bagian dari sebanyak mungkin cerita.

Dan selama tenggorokannya masih sanggup berteriak, sepertinya nama Jossi Bima lengkap dengan daftar band yang panjang akan terus muncul di skena metal ekstrem Indonesia. Satu kata “Berbahaya”.

Total
0
Shares
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts