Metalgear Music – Di tengah hiruk-pikuk festival besar yang semakin industrial dan penuh pertimbangan profit, Blacken Ritual datang dengan sikap yang beda, keras, jujur, dan berdiri di atas idealisme skena. Bukan sekadar event, tapi pernyataan sikap.
Begitulah pembuka yang cocok saat Budi Bawono, penggagas Blacken Ritual Asia, vokalis Santet, saat memberikan keterangan kepada Metalgear Music.
Semua berawal dari satu keresahan klasik kenapa band black metal, khususnya dari Indonesia, sering kali mentok di pintu festival besar? Kenapa selalu ada batas tak tertulis soal “layak tampil atau tidak”?
Dari situlah semangat besar ini lahir.

Black Metal Nggak Perlu Ngemis Validasi
Menurut Budi, Blacken Ritual lahir dari kegelisahan melihat bagaimana skena black metal kerap dipinggirkan, bahkan di negara sendiri. Bukan soal siapa kenal siapa, tapi soal sistem yang terlalu berorientasi profit.
“Black metal itu nggak harus ngemis ke festival kelas internasional yang ada di Indonesia, yang kebanyakan mikir profit dan bukan dari skena,” tegasnya.
Alih-alih menunggu pintu dibuka, mereka memilih bikin pintu sendiri. Blacken Ritual pun digagas sebagai event mandiri yang berdiri di atas semangat kolektif, bukan kepentingan industri.
Baca Juga: Mengenal Aipeqink, Sosok dibalik Kostum Pocong Band Tahlilan

Bukan Cuma Gig, Tapi Gerakan
Berbeda dari festival kebanyakan, Blacken Ritual bukan cuma soal lineup keras atau crowd chaos. Event ini membawa misi yang lebih panjang yaitu mengangkat martabat black metal Asia, khususnya Indonesia, di kancah global.
Makanya, konsepnya dibuat serius. Bukan asal manggung, tapi terkurasi dengan visi jangka panjang. Bahkan sejak awal, Blacken Ritual sudah memposisikan diri sebagai festival lintas negara.
“Makanya kita bikin konsep black metal se-Asia dulu. Ide ini saya gagas dan diproduseri oleh Black Anchor Production Malaysia buat dukung pendanaan,” jelasnya.
Baca Juga: Stephanus Adjie Ungkap Rock In Solo 2026 Tidak Digelar di Benteng Vastenburg Lagi
Bukan Cuma Santet, Tapi Satu Skena
Meski nama Santet sering jadi sorotan, Budi menegaskan bahwa Blacken Ritual bukan panggung satu band.
“Saya pengin angkat skena black metal Indonesia secara keseluruhan. Bukan cuma Santet doang, tanpa perlu saling gebak-gebuk, bully-bullyan, atau sok paling ini itu,” katanya tegas.
Fokusnya jelas kolaborasi, bukan kompetisi. Black metal sebagai budaya, bukan ajang ego.

Line-up Asia, Mental Dunia
Blacken Ritual 2026 bakal jadi edisi paling ambisius sejauh ini. Mengusung tajuk Asia’s Black Metal Fest, acara ini menghadirkan nama-nama dari berbagai negara:
Line-up Internasional & Asia: Impiety (Singapore), As Sahar (Singapore), Langsuir (Malaysia), Barbalans (Malaysia), Pyre (Philippines), Antim Grahan (Nepal),Akhirot (Malaysia).
Line-up Indonesia: Santet (Purwokerto), Misanthropic Imperium (Malang), Demondragon (Bengkulu), Almarhum (Jakarta), Thoryvodis (Jakarta), Gendarong (Wonogiri), Crawl of The Dark (Bandung), Ortodeus (Jakarta), Delicious Sadness (Cikarang), Paramedis 666 (Cilacap), Darkness Gate (Tangerang).
Baca Juga: Menuju Panggung Internasional, Cari Booking Agent atau Schedule Dulu? Ini Penjelasannya
Untuk saat ini, fokus masih di Asia. Tapi rencana besar sudah disiapkan.
“Sejauh ini kita fokus untuk wilayah Asia, ke depannya tahun 2027 band asal Eropa menjadi radar selanjutnya untuk tampil di Blacken Ritual,” tutupnya.
Blacken Ritual 2026 akan digelar di Toba Dream, Menteng Jakarta Selatan pada Minggu, 12 April 2026. Harga tiket dibanderol Rp150.000 (Pre-sale hingga 1 April 2026), Rp195.000 (OTS).