Metalgear Music – Nama Andik Godfinger mungkin sudah sering seliweran di antara pecinta musik ekstrem. Karyanya pernah dipakai band-band kelas dunia seperti Slaughter to Prevail, Napalm Death, Slipknot, Suicide Silence, Pantera, hingga Waking The Cadaver. Tapi di balik visual brutal yang sering bikin merinding itu, ada sosok yang jauh dari kata “ngartis”.
Ia bukan seniman yang hidup di studio mewah. Bukan juga figur yang gemar pamer pencapaian. Andik justru menyebut dirinya dengan cara paling sederhana:
“Saya cuma kepala rumah tangga. Suami, bapak dua anak. Sekarang ke mana-mana pakai sarung, minyak angin, sama balsem. Capek dikit bengong sendiri.”
Bukan PNS, bukan ASN, bukan siapa-siapa. Katanya, ia cuma “produk desa biasa”.

Dari Bingung Cari Hidup, Sampai Ketemu Jalan Lewat Gambar
Kalau ditanya sejak kapan sadar bahwa menggambar adalah jalan hidup, Andik justru menjawab dengan jujur bahwa ia sendiri nggak pernah benar-benar tahu. Ia sempat berpindah-pindah pekerjaan. Lima sampai enam kali. Tapi semuanya terasa salah. Sampai akhirnya ia kembali ke satu hal yang paling ia mengerti, menggambar. Bukan karena yakin bakal sukses, tapi karena itu satu-satunya hal yang nggak bikin hatinya berontak.
“Pokoknya yang nggak bentrok sama hati, ya itu yang saya jalanin,” ungkapnya.
Dari situ, menggambar bukan lagi hobi. Tapi jadi cara bertahan hidup. Bahkan sampai hari ini, ia masih menyebut dirinya “kuli gambar”.
Selain ilustrasi, hidup Andik juga penuh hal-hal yang jauh dari kesan modern, kadang nyari rumput, mendalang wayang, bikin wayang kulit, memahat batu, sampai merawat keris di galeri tosan aji. Hidupnya pelan, tapi penuh makna.

Momen paling menentukan hidupnya bukan saat karyanya dipakai band besar, tapi saat ia menikah.
“Saya nggak punya bapak ibu. Nggak punya warisan. Jadi kalau nggak kerja, ya dosa,” katanya lugas.
Dari situ, menggambar bukan lagi soal ekspresi diri, tapi tanggung jawab. Sesuatu yang harus diasah terus, seperti pisau yang kalau nggak diasah akan tumpul. Dengan dukungan sang istri, ia mulai serius menekuni ilustrasi. Dari yang awalnya cuma iseng, berubah jadi ibadah.
Baca Juga: Event Blacken Ritual, Wujud Black Metal Asia Memilih Berdiri Sendiri “Tanpa Mengemis”
Tembus Band Dunia? Bukan Karena Viral
Tidak ada cerita “meledak dalam semalam”. Tidak ada strategi viral. Semua berjalan pelan, lewat relasi. Andik banyak belajar dari senior seperti Olinokus, Slamuerta, Eliran Kantor, Pedro Sena. Ia juga menjaga hubungan baik dengan banyak musisi, termasuk member Waking The Cadaver.

Sampai suatu hari, namanya direkomendasikan untuk menggarap artwork di event besar seperti Knotfest, lalu berlanjut ke proyek-proyek internasional lainnya.
“Kuncinya cuma satu: jaga hubungan baik. Kita nggak pernah tahu siapa yang suatu hari butuh kita.”
Tapi ia juga menegaskan bahwa banyak band lokal sekarang sudah mulai menghargai karya seniman dengan layak. Dan itu patut diapresiasi. Buatnya, artwork bukan sekadar gambar.
Itu adalah tenaga, waktu, perasaan, bahkan hidup. Moto hidupnya pun cukup nyentil.
“Support lokal, jajah luar.”
Artinya karya lokal tetap didukung, tapi kalau ke luar negeri harga harus naik. Dulu dijajah, sekarang gantian “menjajah” lewat karya.
Soal Kebebasan Kreatif: Jangan Pesan Bakso di Warung Sate
Band luar justru lebih memberi kebebasan penuh, mereka datang karena percaya gaya Andik, bukan mau mengatur. Analoginya sederhana tapi kena.
“Kalau datang ke warung sate, jangan minta bakso.”

Kalau mau gaya orang lain, ya cari seniman lain. Karena kalau dipaksakan, hasilnya pasti mengecewakan dua belah pihak. Makanya, Andik nggak segan menolak klien kalau merasa nggak sanggup atau bukan gayanya.
Lucunya, banyak karya justru ditolak karena terlalu ekstrem. Bukan karena jelek, tapi karena platform digital punya aturan ketat. Kadang visualnya terlalu keras untuk dipajang di layanan streaming atau toko digital. Padahal, di situlah esensi metal berada.
Bagi Andik, visual bukan pelengkap. Visual adalah pintu masuk. Sampul album, desain panggung, maskot, sampai merch semua membentuk persepsi orang sebelum mendengar satu nada pun.
Ia bahkan terlibat langsung sebagai visual director untuk band seperti Waking The Cadaver dan Slaughter to Prevail.
Baca Juga: Jossi Bima, Satu Tenggorokan “Seribu Band” Vokalis Paling Brutal di Skena Death Metal Saat Ini

Realita Hidup Sebagai Seniman
Bicara soal realita hidup sebagai seniman, Andik Godfinger memilih tidak berdiri di posisi menggurui. Namun satu kalimatnya justru terasa menohok dan jujur. Ia menyentil realitas sosial dengan cara yang lugas, di negara demokrasi orang bebas bicara tapi harus berjuang sendiri untuk hidup, di negara komunis kebutuhan bisa terjamin tapi suara dibatasi, sementara di Indonesia, menurutnya orang sering kali berada di posisi paling pelik: bicara dibatasi, hidup pun tetap harus diperjuangkan sendiri. Sebuah refleksi getir yang datang dari pengalaman, bukan sekadar opini.
Soal media sosial, Andik mengakui perannya memang penting, terutama di era sekarang. Namun baginya, eksistensi digital bukan segalanya. Relasi nyata, sikap profesional, dan konsistensi justru jauh lebih menentukan keberlanjutan seseorang di dunia kreatif. Personal branding, menurutnya, bukan soal feed yang rapi atau visual yang estetik, melainkan tentang bagaimana seseorang membawa diri, menjaga etika, dan membangun kepercayaan dari waktu ke waktu.

Ketika ditanya apakah ia masih ingin terus berkarya, jawabannya sederhana tapi jujur, iya, meski tidak selalu mudah. Ada fase lelah, ada momen ingin berhenti, bahkan ada rasa enggan untuk terlalu dikenal. Itu pula yang membuatnya kerap memilih berada di balik layar, tidak terlalu menampilkan wajah. Namun selama masih ada kepercayaan dari orang-orang yang mempercayakan karya padanya, ia merasa punya tanggung jawab untuk terus berjalan. Baginya, itu bukan sekadar pekerjaan, tapi amanah.
Menutup obrolan, Andik tidak menyampaikan pesan motivasi klise atau kata-kata heroik. Ia hanya menyelipkan doa yang terdengar sederhana, tapi terasa tulus: semoga siapa pun yang membaca ini diberi rezeki yang sehat, rezeki yang menenangkan, dan rezeki yang cukup. Satu hal yang ia tekankan apa pun yang dijalani, libatkan Tuhan di dalamnya.
Baca Juga: Stephanus Adjie Ungkap Rock In Solo 2026 Tidak Digelar di Benteng Vastenburg Lagi