Metalgear Music – Kalau mendengar kata metal, yang terbayang biasanya adalah musik keras, riff bengis, panggung penuh kekacauan, dan gaya hidup yang identik dengan daging panggang, alkohol, serta kehidupan malam.
Tapi di balik semua stereotip itu, ada fakta menarik yang mungkin nggak banyak disadari, semakin banyak musisi metal Eropa yang justru memilih hidup vegan. Bukan karena tren, bukan juga karena pencitraan, tapi karena kesadaran yang tumbuh dari cara mereka memandang dunia.

Alasan Lain di Balik Menjadi Vegan
Buat sebagian musisi metal, musik bukan sekadar hiburan atau pelarian emosi. Metal sejak awal lahir sebagai medium kritik tentang kerusakan alam, penindasan, hingga sistem yang dianggap tidak adil. Dari situ, pola pikir mereka berkembang.
Ketika isu lingkungan makin nyata dan industri daging dianggap sebagai salah satu penyumbang terbesar kerusakan bumi, banyak musisi merasa ada kontradiksi jika mereka lantang bicara soal kehancuran dunia tapi tetap ikut menyumbang di dalamnya.
Dari sinilah keputusan untuk menjadi vegan muncul, bukan sebagai gaya hidup keren, tapi sebagai bentuk konsistensi.

Menariknya, di balik musik yang terdengar brutal dan gelap, banyak musisi metal justru punya empati yang tinggi, terutama terhadap hewan. Mereka melihat praktik peternakan massal sebagai bentuk eksploitasi yang sulit dibenarkan.
Buat mereka, veganisme bukan soal merasa paling benar, tapi soal memilih jalan yang menurut hati mereka lebih adil. Di titik ini, metal bukan lagi sekadar suara bising, tapi ekspresi perlawanan terhadap ketidakadilan dalam bentuk yang lebih luas.
Demi Daya Tahan Tubuh saat Tour
Alasan lain yang sering muncul adalah soal fisik dan daya tahan tubuh. Tur panjang di Eropa bukan hal main-main, manggung hampir tiap malam, tidur nggak teratur, perjalanan darat berjam-jam, dan tekanan mental yang tinggi. Banyak musisi mengaku setelah beralih ke pola makan nabati, tubuh mereka terasa lebih ringan, stamina lebih stabil, dan pemulihan lebih cepat. Buat band yang harus tampil brutal di atas panggung malam demi malam, kondisi fisik jelas bukan hal sepele.
Selain itu, kultur metal Eropa juga kuat dengan semangat DIY dan sikap anti-korporasi. Veganisme sering dipandang sebagai salah satu bentuk perlawanan kecil terhadap industri besar yang rakus dan eksploitatif. Bukan dalam bentuk teriak-teriak, tapi lewat pilihan hidup sehari-hari. Prinsipnya sederhana, kalau bisa hidup tanpa menyakiti makhluk lain, kenapa tidak?

Pengaruh skena hardcore dan straight edge juga nggak bisa dilepaskan dari fenomena ini. Di banyak wilayah Eropa, skena tersebut tumbuh berdampingan dengan metal ekstrem. Disiplin hidup, kontrol diri, dan kesadaran terhadap tubuh menjadi nilai yang ditanamkan sejak awal. Walau tidak semua metalhead mengikuti jalur ini, pengaruhnya jelas terasa, terutama di generasi baru.
Baca Juga: Andik Godfinger: Dari Sarung, Minyak Angin, Sampai Artwork Band Metal Dunia
Tidak Menggurui Satu Sama Lain
Yang menarik, sebagian besar musisi metal vegan justru tidak suka menggurui. Mereka jarang mengampanyekan pilihan hidupnya secara agresif. Buat mereka, veganisme adalah urusan personal. Tidak ada keinginan untuk menghakimi atau merasa lebih benar. Bahkan banyak yang dengan santai bilang, “Gue vegan buat gue. Lo mau makan apa, itu urusan lo.” Sikap ini justru membuat pilihan mereka terasa lebih dewasa dan jujur.
Pada akhirnya, fenomena ini menunjukkan satu hal penting: metal bukan sekadar soal keras atau gelap. Di balik distorsi dan teriakan, ada prinsip, kesadaran, dan keberanian untuk hidup dengan cara yang dianggap benar, meski bertentangan dengan arus utama. Bagi sebagian musisi metal Eropa, menjadi vegan bukan soal tren, tapi bagian dari sikap hidup sebuah bentuk perlawanan sunyi yang justru sangat metal.
Baca Juga: Jossi Bima, Satu Tenggorokan “Seribu Band” Vokalis Paling Brutal di Skena Death Metal Saat Ini