Metalgear Music – Kalau ngomongin Slipknot, hampir semua orang langsung kepikiran Corey Taylor. Topeng menyeramkan, suara scream, dan persona panggung yang ikonik. Tapi jauh sebelum itu semua ada, sebelum Slipknot jadi raksasa metal dunia, sebenarnya ada satu sosok penting yang sering terlupakan. Ia adalah Anders Colsefni, vokalis pertama Slipknot.
Nama ini mungkin nggak sepopuler Corey, tapi tanpa Anders, sejarah Slipknot bisa jadi nggak akan pernah dimulai.
Slipknot lahir di Des Moines, Iowa, tahun 1995, di masa ketika band ini masih jauh dari kata rapi. Formasinya belum solid, musiknya masih liar, dan konsepnya lebih mirip eksperimen penuh amarah dibanding band metal mapan.

Di fase awal inilah Anders Colsefni berdiri di depan, mengisi posisi vokal sekaligus perkusi. Gaya bernyanyinya kasar, mentah, lebih dekat ke hardcore dan industrial, jauh dari karakter vokal Slipknot yang kemudian dikenal publik. Tapi justru di situlah daya tariknya liar, jujur, dan tanpa filter.
Nama Anders paling erat dengan album legendaris “Mate. Feed. Kill. Repeat”. yang dirilis secara independen pada 1996. Album ini bisa dibilang versi “gelap dan aneh”-nya Slipknot. Musiknya eksperimental, penuh groove aneh, sentuhan funk, industrial, dan atmosfer yang benar-benar berbeda dari era Corey Taylor.
Sampai hari ini, album tersebut jadi barang buruan kolektor dan dianggap sebagai artefak penting dalam sejarah Slipknot. Meski belum sukses secara komersial, album ini adalah fondasi yang membuat band ini akhirnya berkembang ke arah yang lebih ekstrem dan terstruktur.
Baca Juga: Slipknot Lagi Istirahat, Tapi Musik Terbaru Tinggal Tunggu Waktu

Lalu muncul pertanyaan klasik, kenapa Anders keluar? Jawabannya sebenarnya nggak dramatis. Slipknot saat itu merasa arah musik mereka berubah dan butuh vokalis dengan karakter yang lebih fleksibel, lebih agresif, dan bisa mengimbangi intensitas musik yang makin keras. Di titik inilah Corey Taylor masuk. Anders pun mundur secara perlahan, tanpa konflik besar, tanpa drama saling serang. Hanya perbedaan visi dan kebutuhan musikal.
Setelah keluar dari Slipknot, Anders tidak mengejar sorotan seperti mantan band-nya. Ia sempat membentuk proyek bernama Painface, tetap di jalur industrial metal, tapi tak pernah benar-benar mengejar popularitas besar. Dalam beberapa wawancara, ia mengaku nyaman dengan hidup yang lebih tenang dan tidak tertarik pada hiruk-pikuk industri musik. Baginya, bermusik bukan soal panggung besar atau ketenaran, tapi soal ekspresi dan kejujuran.
Baca Juga: Kenapa Banyak Personel Band Metal Eropa Pilih Jadi Vegan? Bukan Cuma Soal Makanan

Menariknya, meskipun bukan bagian dari lineup legendaris Slipknot, nama Anders tidak pernah benar-benar dihapus dari sejarah. Fans lama masih menganggapnya sebagai bagian penting dari perjalanan awal band. Bahkan, seiring waktu, banyak yang mulai mengapresiasi perannya sebagai sosok yang membuka jalan orang yang ikut membentuk DNA awal Slipknot sebelum akhirnya berevolusi menjadi monster metal dunia.
Kisah Anders Colsefni membuktikan satu hal penting tidak semua legenda harus berdiri di garis depan. Ada yang perannya memang untuk memulai, membuka jalan, lalu memberi ruang bagi sesuatu yang lebih besar untuk tumbuh. Dalam dunia metal, itu bukan kegagalan. Itu bagian dari sejarah.
Dan mungkin, tanpa Anders, kita tidak akan pernah mengenal Slipknot seperti yang kita kenal hari ini.
Baca Juga: Vokalis Counterparts Marah! Buntut Kelakuan Broken Avenue, Band AI di Spotify