Dario Dubois, Pesepakbola Corpsepaint Black Metal

Metalgear Music – Di dunia sepakbola, ada pemain yang hidup untuk trofi. Ada yang mati-matian ngejar kontrak. Dan ada juga yang cuma numpang lewat, bikin keributan, lalu pergi sambil ninggalin predikat jadi legenda aneh yang nggak pernah benar-benar bisa dijelasin.

Nah, Dario Dubois ada di kategori terakhir.

Ia bukan bintang. Bahkan bukan pemain penting. Kariernya cuma berkutat di divisi-divisi bawah Argentina tempat di mana lapangan lebih sering berdebu ketimbang berumput, dan gaji kadang datang lebih lambat dari wasit yang telat masuk lapangan. Tapi justru dari sanalah Dubois jadi sosok yang tidak bisa diabaikan.

Ia bukan pesepakbola biasa. Ia lebih mirip musisi black metal yang nyasar ke dunia bola.

Dubois terkenal bukan karena gol atau assist, tapi karena sikapnya yang terlalu jujur buat dunia sepakbola. Ia mengecat wajahnya seperti personel Immortal sebelum pertandingan. Ia menutup logo sponsor pakai selotip. Ia terang-terangan bilang tidak suka sepakbola. Dan yang paling penting ia tidak pernah berpura-pura.

“Gue main bola bukan karena cinta. Gue main karena hidup butuh jalan,” katanya yang dikutip dari sumber lain.

Dario Dubois saat berlaga di lapangan.

Sepakbola yang Terlalu Rapi untuk Jiwa yang Berantakan

Lahir di Argentina tahun 1970, Dario Dubois tumbuh tanpa mimpi jadi bintang. Ia tidak pernah punya idola pesepakbola. Yang ia punya justru kaset-kaset rock, poster band, dan kepala penuh distorsi. Saat anak-anak lain bercita-cita jadi Maradona, Dubois ingin jadi musisi.

Tapi hidup nggak selalu nurut sama mimpi.

Ia akhirnya bermain bola, bukan karena bakat luar biasa, tapi karena itu satu-satunya cara bertahan hidup. Dari Yupanqui sampai Victoriano Arenas, kariernya seperti catatan perjalanan band underground: berpindah-pindah, tanpa kontrak jelas, tanpa jaminan apa pun.

Di lapangan, ia aneh. Ia mengecat wajah seperti akan naik panggung konser. Katanya, itu memberinya keberanian. Rasanya seperti berperang. Dan dalam kepalanya, pertandingan memang perang bukan olahraga.

Baca Juga: Andik Godfinger: Dari Sarung, Minyak Angin, Sampai Artwork Band Metal Dunia

Grafiti tembok untuk Dario Dubois dari fans-nya.

Salah satu cerita paling terkenal tentang Dubois terjadi saat klubnya disponsori sebuah perusahaan yang menjanjikan bonus kemenangan. Bonus itu tak pernah dibayar.

Respon Dubois sederhana dan brutal: ia menutup logo sponsor di jersey dengan selotip hitam. Kadang ia tutupi dengan lumpur. Kadang pura-pura bikin tanda salib di dada, padahal cuma buat nutup logo.

“Kalau mereka nggak bayar, kenapa gue harus promosiin mereka?” katanya.

Tindakan itu bikin klub panas. Tapi Dubois tidak peduli. Ia tahu posisinya lemah, tapi ia juga tahu satu hal: tanpa orang seperti dia, sepakbola cuma bisnis kosong.

Sikapnya bikin petinggi klub muak. Ia disebut badut. Dibilang cari sensasi. Tapi justru karena itulah namanya diingat.

Musik Lebih Jujur dari Sepakbola

Di luar lapangan, Dubois hidup di dunia lain. Ia main di beberapa band. Ada Tributo Rock, band cover berisi sesama pesepakbola. Ada Corre Guachín, band cumbia dengan sentuhan grunge. Ada juga proyek tribute band rock Inggris.

Baginya, musik adalah ruang paling jujur. Tidak ada federasi. Tidak ada kontrak licik. Tidak ada sponsor munafik. Ia pernah bilang, “Di musik, kalau lo jelek, orang tinggal pergi. Di sepakbola, lo bisa jelek tapi tetap dibayar.”

Dan mungkin itulah kenapa ia lebih mencintai musik.

Baca Juga: Cerita Casper Hatestroke Kini Sibuk Mengaji dan Dihibur Sound Horeg

Dario Dubois bersama rekan-rekan satu timnya.

Bentrokan, Uang, dan Sistem yang Tidak Pernah Peduli

Masalah Dubois dengan otoritas sepakbola makin panjang. Ia pernah mengambil uang yang jatuh dari saku wasit sambil berteriak, “Ini buat gue, karena lo ngusir gue!”

Ia juga pernah membongkar praktik suap petinggi klub di radio. Terang-terangan. Tanpa takut.

Konsekuensinya jelas: ia makin dijauhi.

Saat cedera serius, federasi tidak peduli. Saat ia butuh bantuan medis, tidak ada yang datang. Ketika kariernya habis, yang tersisa cuma tubuh rusak dan tagihan rumah sakit.

Dan seperti banyak cerita tragis lain di Argentina, semuanya berakhir di jalanan.

Tahun 2008, Dubois dirampok saat pulang bersama pacarnya. Ia melawan. Dua peluru mengenai tubuhnya. Ia koma selama seminggu, lalu meninggal dunia di usia 37 tahun.

Dalam wawancara terakhirnya, ia pernah berkata “Aku ini badut yang mengecat wajahnya… dan akhirnya mati karena seragamnya sendiri.”

Kalimat itu terdengar seperti lelucon pahit. Tapi justru di situlah kejujurannya. Dario Dubois bukan pahlawan. Ia juga bukan korban suci. Ia cuma orang yang terlalu jujur untuk sistem yang menuntut kepatuhan.

Ia tidak menang trofi.
Ia tidak masuk buku sejarah FIFA.
Tapi ia meninggalkan sesuatu yang lebih langka:

keberanian untuk tidak tunduk.

Dan mungkin, di dunia sepakbola yang makin steril, itulah bentuk perlawanan paling keras yang pernah ada.

Baca Juga: Stephanus Adjie Ungkap Rock In Solo 2026 Tidak Digelar di Benteng Vastenburg Lagi

Total
0
Shares
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts