Bikin Event Musik, Udah Mikirin Biaya Masa Harus Bayar Pungli? Mau Sampai Kapan?

Ilustrasi event musik metal. (Foto: Rizky Abdu Rahman)

Bukan Kurang Band, Tapi Kebanyakan Oknum. Bukan Nggak Mau Berkembang, Tapi Sistemnya Nggak Mau Ngasih Jalan. Antara Cinta Musik dan Setoran ke Oknum. Gini amat ya berperan di skena tercinta?

Metalgear Music – Kalau ada yang bilang bikin event musik itu seru, mereka nggak bohong. Tapi kalau ada yang bilang bikin gigs atau event metal itu capek, bikin stres, dan kadang bikin pengen berhenti selamanya, itu juga 100 persen valid. Karena di Indonesia, bikin gigs bukan cuma soal musik, bukan cuma soal band naik panggung dan penonton teriak bareng. Ini soal bertahan hidup di sistem yang dari awal memang nggak pernah benar-benar berpihak sama skena.

Yang kelihatan di luar cuma lampu panggung, crowd yang lagi moshing, dan euforia sesaat. Tapi di balik itu semua ada chat izin yang nggak dibales-bales, proposal yang mental ke mana-mana, uang yang keluar duluan tanpa kepastian balik, dan rasa cemas tiap menit kalau-kalau acara dibubarin sebelum selesai. Selamat datang di dunia nyata penyelenggara gigs Indonesia.

Krisis Venue Terus Bergulir, Diduga Sampai Kiamat

Masalah pertama selalu sama, venue. Secara teknis ada, tapi yang benar-benar siap buat musik keras bisa dihitung pakai jari. Sisanya cuma kafe sulapan yang takut denger tetangga protes, gedung serbaguna yang nggak ngerti sound, ruang seni yang terlalu “sunyi” buat distorsi, atau tempat yang tiba-tiba minta acara kelar jam sembilan malam. Begitu dengar kata metal, hardcore, punk, bahkan indie yang agak kencang dikit, langsung muncul pertanyaan klasik, “Ini nanti rusuh nggak?”

Padahal yang sering bikin ribut bukan penontonnya, tapi sistem yang nggak pernah mau ngerti kultur. Lucunya, negara ini bangga bilang musiknya kaya, tapi ruang buat memainkannya justru makin dipersempit, sekali lagi di-per-sem-pit.

Suasana moshpit di Hammersonic Festival.

Bayar Dulu Dong

Belum selesai di situ, masuk ke level yang lebih absurd soal perizinan. Di sinilah realita mulai terasa pahit. Bikin acara seni, tapi harus lapor ke banyak pihak. RT, RW, kelurahan, plokis, linmas, sampai entah siapa lagi. Dan hampir selalu, di ujung pembicaraan muncul kalimat sakti “Sebenarnya bisa sih… tapi ya ngerti lah.”

Yang artinya satu, bayar!

Bukan tiket. Bukan sewa. Tapi uang pelicin. Uang damai. Uang rokok. Dan ini bukan rahasia lagi. Semua orang di skena tahu. Semua kesal. Tapi tetap dilakukan, karena kalau nggak, acara bisa gagal sebelum dimulai. Yang lebih nyebelin, kadang bayar satu oknum aja nggak cukup. Sudah setor sebelum acara, eh pas hari-H muncul lagi oknum lain minta jatah. Alasannya klasik: “buat keamanan.”

Lebih enggak jelas lagi, ada yang datang pakai seragam. Minta jatah. Minta minum. Minta dihormati. Dan sering kali, yang diminta bukan sedikit. Mirisnya, hal kayak gini udah jadi semacam “biaya operasional tak tertulis” dalam dunia gigs. Semua tahu ini salah, tapi semua juga tahu kalau nolak, risikonya bisa panjang.

Lalu soal promotor. Banyak yang mikir promotor itu untung gede. Padahal kenyataannya, mayoritas justru nombok. Uang keluar dulu buat venue, sound, band, konsumsi, poster, izin, sampai “biaya tak terduga” yang jumlahnya bisa bikin kepala cenat-cenut. Tiket? Kadang laku, kadang enggak. Kadang balik modal, seringnya malah tekor. Tapi tetap dijalanin. Karena kalau bukan mereka yang gerak, nggak akan ada gigs buat band lokal.

Dan ketika acara sukses, yang dipuji biasanya band, crowd, atau venue. Promotornya? Paling cuma dapat capek, kurang tidur, dan utang yang belum lunas.

Baca Juga: Musim Banjir, 4 Festival Musik Ini Juga Gagal Digelar Gara-gara Banjir

Ilustrasi suasana gigs.

Bandnya Banyak, Wadahnya Kering

Yang bikin makin nyesek, regenerasi musik di Indonesia sebenarnya nggak pernah mati. Tiap tahun selalu muncul band baru, sound baru, anak-anak yang nekat bikin karya dari kamar tidur mereka. Dari indie pop sampai brutal death metal, semuanya hidup. Tapi sistemnya? Masih gitu-gitu aja. Nggak ada venue khusus musik yang benar-benar dilindungi. Nggak ada regulasi jelas soal gigs. Nggak ada perlindungan buat penyelenggara kecil. Semua disamaratakan, semua dicurigai, semua dianggap potensi masalah.

Setiap ada keributan, yang disalahkan selalu musiknya. Dibilang terlalu keras, terlalu liar, terlalu negatif. Padahal yang nggak pernah dibenahi itu justru ruang ekspresi, sistem izin, edukasi soal budaya gigs, dan infrastruktur musik. Kita disuruh kreatif, tapi dipersulit. Disuruh berkarya, tapi dicurigai. Disuruh mandiri, tapi dipalak.

Ironis, ya?

Tapi anehnya, di tengah semua kekacauan ini, gigs tetap hidup. Karena buat banyak orang, musik bukan cuma hiburan. Gigs adalah tempat kabur dari realita, ruang aman, tempat numpahin emosi, dan kadang satu-satunya alasan buat bertahan. Dan mungkin karena itu juga, meski capek, meski rugi, meski sering dipatahkan, orang-orang tetap nekat bikin acara.

Baca Juga: Konser-Konterversial yang Mengguncang Dunia: Dari Kacau hingga Ikonik

Ilustrasi konser musik.

Karena di balik semua tekanan, pungli, izin ribet, dan sistem yang nggak berpihak, masih ada satu hal yang nggak bisa dibunuh, semangat buat bersuara dan berkarya.

Selama masih ada anak-anak yang mau berdiri di depan panggung, teriak bareng, moshing, nyanyi fals, dan pulang dengan badan pegal tapi hati penuh, scene ini nggak akan mati. Bukan karena negara mendukung. Tapi karena kita terlalu keras kepala untuk berhenti.

Baca Juga: Stephanus Adjie Ungkap Rock In Solo 2026 Tidak Digelar di Benteng Vastenburg Lagi

Total
0
Shares
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts