Waktunya Koleksi Pick Gitar dan Kertas Setlist Bekas Band karena Lebih Menarik

Penggemar musik berburu pick gitar bekas pakai musisi dan kertas setlist panggung.

Metalgear Music – Kalau di Indonesia koleksi rilisan fisik masih sering dianggap sekadar hobi vinyl buat pajangan, kaset buat nostalgia, di luar negeri ceritanya bisa jauh lebih diluar dugaan. Buat sebagian fans musik di sana, mencintai band favorit bukan cuma soal dengerin lagu atau datang ke konser, tapi soal mengarsipkan momen sekecil apa pun.

Bukan cuma rilisan langka atau merchandise tur, tapi juga hal-hal yang kelihatannya receh kayak pick gitar bekas, kertas setlist yang lecek, stik drum patah, bahkan handuk panggung yang masih basah keringat. Dan anehnya, semua itu bukan dianggap lebay, tapi justru bentuk cinta paling tulus ke musik yang mereka sukai.

Lemparan Pick Gitar dari Panggung Jadi Momen Berharga

Di banyak konser metal, hardcore, sampai indie rock di luar negeri, ada satu momen sakral yang selalu ditunggu setelah lagu terakhir selesai lemparan pick gitar. Buat orang awam, itu cuma potongan plastik kecil. Tapi buat fans, itu artefak sejarah. Pick yang dipakai buat main lagu favorit mereka. Pick yang kena keringat idolanya. Pick yang mungkin dipakai saat solo paling keren malam itu. Ada yang menyimpannya di pigura, ada yang dikasih label tanggal dan venue, ada juga yang dikoleksi berdasarkan era album. Bahkan nggak sedikit yang rela bayar ratusan dolar cuma buat satu pick bekas, karena yang mereka beli bukan barangnya, tapi ceritanya.

Koleksi pick gitar milik Heiko Glamtner, seorang metalhead asal Jerman yang gemar menghadiri berbagai festival musik metal di Eropa.

Kalau pick gitar masih terdengar masuk akal, tunggu sampai ngomongin setlist. Di banyak gigs luar negeri, fans rela nungguin crew beres-beres cuma demi satu lembar kertas yang ditempel di lantai panggung. Kertas yang kusut, kadang sobek, kena bir, kena keringat, atau diinjak-injak selama satu set penuh. Tapi justru di situ magisnya.

Baca Juga: Motörhead dan 150 Botol Wiski Zanzibar Muncul dari “Tongkrongan”

Mendapatkan Kertas Setlist Panggung Jadi Bukti Kehadiran

Setlist adalah bukti bahwa lo benar-benar ada di malam itu, menyaksikan urutan lagu yang nggak akan pernah terulang sama persis. Makanya banyak yang melaminating setlist, masukin ke frame, nulis tanggal dan nama venue, bahkan minta tanda tangan band di atasnya. Di luar negeri, setlist bukan sampah panggung. Itu memorabilia.

Yang bikin kultur ini terasa beda adalah cara mereka memaknai musik. Buat banyak fans, musik bukan sekadar playlist di Spotify, tapi bagian dari hidup. Satu konser bisa jadi pelarian dari depresi, jadi momen terakhir nonton bareng teman, atau jadi malam yang bikin seseorang ngerasa hidup lagi.

Seorang fans menaruh botol kosong untuk diisi pick gitar dan kertas setlist di backstage Meh Suff Open Air, Swiss.

Karena itu, benda sekecil pick gitar bisa punya nilai emosional yang nggak masuk akal buat orang luar. Dan para musisinya paham betul soal ini. Banyak band sengaja nyiapin pick buat dilempar ke penonton, ninggalin setlist di panggung, atau bahkan nulis catatan kecil buat fans. Mereka tahu, benda-benda itu bakal disimpan seumur hidup.

Bandingin dengan kondisi di Indonesia. Fans yang koleksi beginian masih sering dianggap aneh. Ngumpulin tiket konser bekas dibilang nggak guna. Nyimpen setlist dianggap norak. Ngejar pick gitar dibilang lebay. Padahal di luar sana, hal-hal kayak gini justru jadi bukti hidupnya ekosistem musik. Bedanya cuma satu: di sana, budaya musik dihargai. Di sini, sering kali masih dianggap gangguan.

Padahal, musik itu bukan cuma soal bunyi, view, atau angka streaming. Musik adalah memori. Dan benda-benda kecil itu pick, setlist, tiket adalah bukti fisik dari momen yang nggak bisa diulang. Ketika seorang fans pulang dari konser dengan telinga berdengung dan pick gitar di saku, itu bukan soal barang. Itu soal perasaan: “Gue ada di sana. Gue jadi bagian dari momen itu.” Dan mungkin, di situlah letak cinta paling jujur dalam musik bukan di chart, bukan di algoritma, tapi di kenangan yang dibawa pulang.

Baca Juga: Menuju Panggung Internasional, Cari Booking Agent atau Schedule Dulu? Ini Penjelasannya

Total
0
Shares
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts