Curhat Vokalis MØL, di Balik “Dreamcrush” yang Tumbuh dari Rasa Sakit

Kim Song Sternkopf, MØL.

Metalgear Music – Kim Song Sternkopf lagi-lagi ngomong jujur, kali ini bukan dari atas panggung dengan teriakan putus asa khas MØL, tapi dari ruang istirahat di sela pekerjaan hariannya. Kalimatnya terdengar sederhana, tapi nusuk ke mana-mana.

“Kita semua memiliki ide tentang diri kita sendiri, dan kemudian ketika Anda disajikan dengan realitas baru, Anda harus menemukan pijakan Anda di dunia lagi.”

Kalau lo familiar sama persona vokal Kim yang meledak-ledak, dingin, dan nyaris apokaliptik, pernyataan ini kerasa kayak ditampar pelan. Tapi justru di situlah titik berangkat album terbaru MØL, “Dreamcrush” sebuah fase ketika semua hal yang selama ini diyakini, tiba-tiba harus ditata ulang dari nol.

Selama satu dekade terakhir, Kim sudah mengukuhkan dirinya sebagai salah satu suara paling berpengaruh di ranah blackgaze, lewat debut fenomenal JORD (2018) dan Diorama (2021). Tapi lima tahun berlalu, dan hidup nggak berhenti ngegas. Ada perubahan besar yang datang, bukan dari luar, tapi dari dalam kepala sendiri.

Kim Song Sternkopf.

Kim di Diagnosa ADHD

“Saya terlambat didiagnosis dengan ADHD,” ungkap Kim.

Diagnosis itu datang di tengah proses penulisan “Dreamcrush”, dan efeknya langsung menghantam ke arah lirik. Bukan mundur, tapi mengubah sudut pandang.

“Itu tidak membuat saya kembali, tetapi itu telah mengubah beberapa perspektif. Sekarang saya mencari tahu bagaimana menempatkan diri saya di dunia dan mencari tahu keterasingan yang dapat kita masing-masing rasakan dengan hal-hal yang telah kita ketahui.”

Baca Juga: Jossi Bima, Satu Tenggorokan “Seribu Band” Vokalis Paling Brutal di Skena Death Metal Saat Ini

Perasaan itu diakui juga oleh gitaris Nicolai Busse. Buat dia, kedewasaan sering kali nggak berjalan sesuai roadmap yang kita bikin waktu muda.

“Tumbuh dewasa, Anda berjuang menuju hal-hal tertentu dalam hidup yang ingin Anda capai, atau Anda memiliki cara tertentu untuk melihat diri Anda di dunia, dan kami menyadari bahwa itu sebenarnya tidak selalu terjadi.”

Secara literal, perubahan juga kejadian. Tahun ini Nicolai nggak ikut tur bareng MØL karena satu hal yang nggak bisa ditawar, dia lagi menyambut anak keduanya. Realita datang, mimpi harus nego ulang.

“Mimpi adalah sumber rasa sakit yang abadi, karena segera setelah Anda selesai dengan satu mimpi, Anda menuju yang berikutnya, atau mungkin mimpi Anda tidak berhasil.”

MØL luncurkan “Dreamcrush” sebagai album terbaru 2026.

Dan dari sinilah “Dreamcrush” berdiri. Album ini terinspirasi dari pemikiran Arthur Schopenhauer soal pencarian kepuasan yang nggak ada ujungnya dan secara frontal mempertanyakan satu nasihat klise “kejar mimpimu.”
Alih-alih itu, MØL justru ngajak pendengarnya buat hidup di saat ini, meskipun berantakan.

Baca Juga: Uada Siapkan Album Akustik “Interwoven” Ada Lagu Cover Nirvana

“Dreamcrush” Tertuang dalam Bahasa Inggris dan Denmark

Seperti rilisan MØL sebelumnya, “Dreamcrush” dibawakan dalam bahasa Inggris dan Denmark. Buat Kim, ini bukan sekadar estetika, tapi cara paling jujur buat menyalurkan pikiran. Buat pendengar? Kadang harus buka terjemahan, tapi emosinya tetap nyampe.
Drum Ken Lund Klejs elastis, bass Holger Rumph Frost kasih nuansa bergemuruh, sementara gitar Nicolai dan Sigurd Kehlet tetap terasa berkilau dalam gelap bikin vokal Kim terasa makin manusiawi.

Menariknya, Kim mengakui bahwa album ini lahir dari kebingungan total.

“Seni adalah sesuatu di mana Anda dapat menyaring pengalaman Anda dan mengatur kekacauan yang mengelilingi Anda dengan cara yang rapi.”

Tema besarnya sederhana tapi berat: dunia bisa jungkir balik kapan saja, dan yang bisa kita lakukan cuma menerima. Sejauh ini, respons publik justru positif. Tiga single Young, Garland yang bahkan disebut “dadgaze” oleh netizen, bikin Nicolai ketawa, dan CRUSH yang diterima hangat.

Buat Nicolai, prosesnya memang penuh gesekan, tapi justru di situlah magisnya.

Pada akhirnya, “Dreamcrush” memang album yang ditulis MØL untuk diri mereka sendiri. Tapi tanpa sadar, album ini berubah jadi ruang aman buat siapa pun yang lagi capek ngejar ekspektasi—baik dari diri sendiri maupun dunia.

“Ini tentang menerima bagian dari dirimu yang rumit bagi orang lain, menemukan makna dengan apa yang kita lakukan bersama sangat penting,” tutup Kim.

Baca Juga: Kenapa Banyak Personel Band Metal Eropa Pilih Jadi Vegan? Bukan Cuma Soal Makanan

Dan mungkin, di situlah “Dreamcrush” benar-benar bekerja: bukan sebagai jawaban, tapi sebagai teman duduk diam ketika segalanya terasa terlalu berat.

Total
0
Shares
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts