Beberapa Musisi yang Terang-terangan Anti-Zionisme dan Trump, Gak Main Aman!

Metalgear Music – Di era ketika industri musik lebih sibuk mengurusi algoritma ketimbang nurani, keberanian untuk bersuara justru jadi barang mahal. Banyak musisi memilih jalur aman lirik dibikin ambigu, pernyataan publik dipoles, dan isu politik sensitif dihindari demi satu tujuan tetap ramah sponsor, tetap masuk playlist, tetap aman dari cancel culture. Rock dan metal, yang dulu lahir dari kemarahan dan perlawanan, perlahan dipaksa jadi produk yang jinak. Berasa gak sih?

Padahal, sejarah mencatat genre ini gak pernah netral. Dari panggung-panggung kumuh sampai stadion raksasa, rock dan metal selalu punya DNA melawan perang, rasisme, kapitalisme rakus, dan negara yang menindas warganya. Di saat banyak suara memilih mengecil, sebagian musisi justru memutar volume ke level paling ekstrem.

Kita hidup di tengah arus informasi yang brutal, rekaman kekerasan beredar real-time, narasi saling bertabrakan, dan kemanusiaan sering kali kalah oleh kepentingan geopolitik. Dalam konteks ini, musik bukan cuma hiburan atau background noise buat kerja dan healing, tapi juga medium sikap. Identitas. Bahkan perlawanan.

Isu Palestina, Zionisme, dan kebijakan Donald Trump bukan topik ringan untuk dibahas secara terbuka, apalagi oleh figur publik. Salah bicara sedikit, risikonya besar. Tapi justru di titik itulah integritas diuji siapa yang berani tetap bersuara ketika konsekuensinya nyata, dan siapa yang memilih aman dengan bungkus netralitas.

Dan Mereka bukan sekadar menyelipkan pesan samar di lirik, tapi secara terbuka berdiri di posisi yang jelas. Mengkritik Zionisme, mengecam penindasan, dan menjadikan era Trump sebagai simbol sistem yang mereka lawan sejak awal.

Siapa saja?

Roger Waters (Pink Floyd)

Kalau keberanian politik bisa dikasih Grammy, Roger Waters sudah wajib menang. Mantan otak Pink Floyd ini bukan tipe musisi yang cuma repost berita lalu move on.

Waters adalah wajah paling vokal dari gerakan BDS (Boycott, Divestment, Sanctions) di dunia musik. Dia secara terbuka menyebut apa yang terjadi di Palestina sebagai apartheid, dan tanpa ragu menegur musisi lain, termasuk Radiohead dan Nick Cave yang tetap manggung di Tel Aviv. Buat Waters, seni nggak boleh jadi alat normalisasi penindasan.

Masuk era Trump, sikapnya makin frontal. Di tur Us + Them, ia memajang visual babi terbang raksasa dengan wajah Donald Trump, lengkap dengan tulisan raksasa: “TRUMP IS A PIG.”
Nggak ada kode-kodean. Full statement.

Baca Juga: Konser Slaughter To Prevail di Stockholm Dituding Bawa Propaganda Rusia

Tom Morello & Rage Against the Machine

Rage Against the Machine bukan band yang “tiba-tiba politis”. Dari hari pertama, mereka sudah jelas musik adalah senjata.

Tom Morello konsisten bersuara soal Palestina, termasuk menandatangani surat terbuka tahun 2021 yang menyebut pengusiran warga Sheikh Jarrah sebagai ethnic cleansing. Zack de la Rocha pun kerap naik panggung dengan keffiyeh, menjadikan simbol perlawanan itu bagian dari identitas RATM.

Di era Trump, kemarahan mereka menemukan sasaran sempurna. Visual konser reuni RATM penuh kritik soal kebijakan imigrasi yang memisahkan anak dari orang tuanya. Buat mereka, Trump bukan sekadar presiden kontroversial, tapi simbol sistem kapitalisme rasis yang sejak dulu mereka lawan.

Serj Tankian (System of a Down)

Suara Serj Tankian memang khas, tapi isi kepalanya jauh lebih tajam. Selain vokal soal genosida Armenia, Serj konsisten mengaitkan isu-isu global dalam satu benang merah kekuasaan, senjata, dan penindasan.

Ia terang-terangan mengkritik standar ganda kebijakan luar negeri AS dan Israel, terutama soal penjualan senjata Israel ke Azerbaijan yang digunakan dalam konflik melawan etnis Armenia. Bagi Serj, ketidakadilan di satu wilayah tak bisa dilepaskan dari yang lain.

Soal Trump? Tanpa basa-basi, Serj pernah menyerukan agar Trump mundur. Ia menyebut kepemimpinan Trump inkompeten, kacau dalam menangani krisis, dan represif saat menghadapi gerakan Black Lives Matter.
Pesannya konsisten: you can’t scream “freedom” while enabling oppression.

Baca Juga: Catatan Kelam Black Metal

Thurston Moore (Sonic Youth)

Di skena indie dan noise rock, Thurston Moore adalah figur sakral. Tapi yang bikin dia beda, integritasnya nggak berhenti di musik.

Moore memilih membatalkan konser di Tel Aviv sebagai bentuk penolakan terhadap pendudukan militer Israel. Nggak ada drama, nggak ada klarifikasi defensif. Alasannya sederhana ia menolak seni dijadikan alat untuk menormalisasi kekerasan negara. Kehilangan panggung dan uang? Lebih baik daripada kehilangan prinsip.

Sebagai warga New York, Moore juga melihat era Trump sebagai ancaman serius terhadap kebebasan berekspresi, seni, dan budaya tanding yang selama ini jadi napas kota itu.

Julian Casablancas (The Strokes / The Voidz)

Banyak yang masih melihat Julian Casablancas sebagai vokalis cool dengan aura too-cool-to-care. Tapi beberapa tahun terakhir, Julian justru makin aktif dan makin berisik secara politik.

Lewat media sosialnya, ia rutin membagikan footage, laporan, dan konteks soal Gaza yang jarang disorot media arus utama Barat. Ia secara terbuka mengkritik narasi bias dan manipulasi informasi, meski sadar risiko dicap “terlalu politis”.

Di sisi lain, Trump dan sistem kapitalisme korporat jadi sasaran empuk kritiknya. Julian konsisten menyerang kebijakan Partai Republik yang menurutnya hanya melayani elite dan meninggalkan rakyat.

Baca Juga: 7 Band yang Ngamuk Saat Disuruh Lip-Sync di TV

Total
0
Shares
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts