Metalgear Music – Ada masa ketika kaos band metal lebih mudah ditemui di gigs daripada hoodie brand lokal di coffee shop. Ketika moshpit adalah ruang katarsis, bukan sekadar latar belakang konten Instagram. Tapi hari ini, realitanya cukup bikin “ngeh” karena musik metal di Indonesia sedang kalah minat bukan oleh dangdut koplo, bukan pula oleh EDM melainkan oleh musik pop yang terdengar lebih ramah, lebih estetis, dan lebih “mudah dijual” untuk mayoritas orang saat ini.
Ini bukan soal siapa lebih bagus. Ini soal skena yang bergerak dan skena yang mandek. Ayo membaca dan menyimak.
Kalau kamu aktif di gigs metal, satu hal terasa jelas wajahnya itu-itu lagi. Tandanya, ada sesuatu yang perlu dipertanyakan. Penontonnya sih masih loyal, tapi yang jadi pertanyaan kenapa jarang ada penonton baru?
Metal di Indonesia hari ini masih hidup, kita pun bangga dengan hal ini, tapi terasa hidup dalam lingkaran yang terbatas. Saling dukung, saling puji, tapi jarang keluar dari ekosistemnya sendiri. Gigs jalan, merch laku, tapi skalanya stagnan. Dan yang paling krusial, mungkin metal saat ini sedang tidak dianggap menarik oleh generasi baru.
Kalau dengan musik pop bagaimana?
Musik pop menang bukan karena lebih “kompleks”, tapi karena lebih relevan secara sosial dan visual. Musiknya gampang dicerna, liriknya dekat dengan problem sehari-hari, dan punya estetika yang bisa dipakai siapa saja.
Musik pop enggak cuma hidup di panggung, tapi juga masif di berbagai lini penting saat ini seperti TikTok, Spotify playlist, di coffee shop, brand activation sampai di konten lifestyle. Ia fleksibel. Bisa masuk ke mana saja tanpa harus “menjelaskan diri”.
Metal? Masih sering terjebak di mindset, kayak “Kalau lo gak paham, berarti bukan buat lo.” Dan itu bisa jadi bumerang
Ketika Terlalu Eksklusif untuk Bertumbuh

Metal selalu bangga dengan identitasnya yang keras, gelap, dan anti-mainstream. Tapi di era sekarang, eksklusivitas berlebihan justru jadi penghalang regenerasi. Enggak semua begitu tapi terkadang band metal terlalu sibuk terlihat “true”, alergi sama kata “populer”, menganggap exposure sebagai bentuk kompromi.
Bagaimana jika metal lebih sadar algoritma, lebih andal secara visual, paham cara bercerita, konsisten mengonterkan musiknya, dan enggak takut kelihatan ringan
Hasilnya? Anak SMA dan mahasiswa lebih gampang jatuh cinta ke lagu indiepop daripada riff metal dengan tema abstrak atau ekstrem yang gak mereka pahami konteksnya.
Baca Juga: Waktunya Koleksi Pick Gitar dan Kertas Setlist Bekas Band karena Lebih Menarik
Regenerasinya Stagnan?

Masalah regenerasi di skena metal bukan cuma soal minat anak muda. Tapi soal lingkungan yang kurang ramah untuk tumbuh.
Beberapa realitanya seperti band muda sering diposisikan sebagai “pembuka abadi”, senioritas masih kuat, kadang toksik, eksperimen sering dianggap “menyimpang”, visual dan branding dianggap sekunder
Akhirnya, band baru capek duluan sebelum berkembang. Mereka either bubar, atau pindah genre. Dan itu bukan karena metal “terlalu berat”, tapi karena ekosistemnya kurang memberi ruang napas juga.
Secara bisnis, metal punya masalah klasik pasar segmented, kadang sponsor ragu, brand takut asosiasi, ada juga yang berpikiran ROI kecil dan lambat.
Bukan karena metal gak punya fans, tapi karena metal jarang dikemas sebagai produk yang relevan dengan pasar hari ini.
Bagaimana jika metal lebih berani mengontenkan musiknya, cerita personal, citra yang bersih, emosi yang relatable, dan visual yang ideal?
Masalahnya, brand peduli ke hal itu, mereka pun butuh. Event organizer peduli. Media besar peduli. Dan ketika metal menolak berbicara dalam bahasa industri, industri akan cari genre lain yang mau. Ini sekadar asumsi ya.
Baca Juga: Kenapa Banyak Personel Band Metal Eropa Pilih Jadi Vegan? Bukan Cuma Soal Makanan
Tapi Metal Tidak akan Mati

Enggak. Musik metal di Indonesia enggak akan mati. Tapi bisa terus mengecil kalau menolak refleksi. Mungkin kita perlu belajar komunikasi, bukan melembek, memahami visual tanpa kehilangan identitas, membuka pintu untuk pendengar baru, membangun narasi, bukan cuma distorsi.
Genre lain bukan musuh. Ia justru bisa jadi cermin yang nunjukkin bahwa musik keras pun butuh strategi lunak. Karena di era sekarang, kita butuh menjadi yang paling terdengar.
Kalau metal ingin tetap relevan di Indonesia, kita harus mulai bertanya apakah kita ingin hidup, atau sekadar bertahan? Semua punya pandangan masing-masing. Yang jelas kita harus sama-sama melek adaptasi, bukan cuma untuk hari ini saja tapi bekal “membaca arah ke depan” pun kita butuhkan. Lambat laun kita akan kembali dari “roda” yang sedang berputar di bawah saat ini.
Baca Juga: Bikin Event Musik, Udah Mikirin Biaya Masa Harus Bayar Pungli? Mau Sampai Kapan?