Metalgear Music – Di tengah peta festival ekstrem dunia yang dipenuhi nama besar seperti Maryland Deathfest atau Obscene Extreme Festival, ada satu nama yang punya reputasi yang mematikan dia Death Feast Open Air. Festival brutal death metal yang digelar di kota kecil Andernach, Jerman, ini bukan sekadar event, ini semacam tradisi tahunan bagi mereka yang hidup dan bernapas dalam lingkaran brutality.
Dan yang bikin makin relevan buat skena Indonesia, panggung ini bukan cuma milik band Eropa atau Amerika. Nama-nama seperti Deadsquad dan Viscral sudah lebih dulu menginjakkan kaki di sana pada 2019 dan 2025. Kini, band hebat berikutnya siap menyusul adalah Death Vomit dan Jasad, disusul oleh Deadsquad yang akan kembali tampil di Death Feast Open Air 2026.
Festival Death Metal, Reputasi Global
Death Feast Open Air pertama kali digelar pada 2007 di Andernach, sebuah kota di barat Jerman. Meski skalanya lebih kecil dibanding festival metal mainstream, Death Feast punya identitas yang sangat spesifikfokus hampir sepenuhnya pada brutal death metal, slam, dan subgenre turunannya.

Festival ini biasanya berlangsung selama beberapa hari, menghadirkan puluhan band dari seluruh dunia, dengan lineup yang dikurasi secara ketat untuk menjaga DNA ekstremnya tetap murni. Bukan tempat buat band “setengah brutal” kalau tampil di Death Feast, berarti lo sudah diakui oleh komunitas global sebagai bagian dari elite underground.
Atmosfernya juga jauh dari festival mainstream. Tidak ada gimmick besar. Tidak ada kompromi. Hanya sound system brutal, crowd loyal, dan lineup yang didesain untuk menghabiskan energi dari pagi sampai malam.
Baca Juga: Kenapa Kaos Logo Band Death Metal Lebih Diburu daripada Artwork?
Kenapa Death Feast Open Air Begitu Bergengsi?
Ada beberapa alasan kenapa Death Feast Open Air dianggap sebagai “tanah suci” bagi band dan penggemar brutal death metal:

1. Kurasi yang ekstrem dan spesifik
Festival ini fokus pada brutal death metal, slam, dan bentuk ekstrem lain tanpa banyak crossover genre. Itu membuatnya jadi festival niche, tapi sangat dihormati.
2. Basis fans yang militan
Fans yang datang bukan casual listener. Mereka adalah kolektor, musisi, dan penggila underground yang tahu detail band sampai level demo tape.
3. Platform global untuk band underground
Banyak band yang awalnya obscure jadi punya exposure internasional setelah tampil di Death Feast.
4. Lokasi Eropa = pusat jaringan metal dunia
Jerman adalah salah satu pusat distribusi, label, dan festival ekstrem terbesar di dunia. Bermain di sana membuka pintu tur, kontrak label, dan distribusi global.
Baca Juga: Kenapa Banyak Personel Band Metal Eropa Pilih Jadi Vegan? Bukan Cuma Soal Makanan
Indonesia Sudah Lama Ada di Radar
Indonesia bukan pemain baru di Death Feast Open Air. Salah satu band yang lebih dulu membuka jalan adalah Deadsquad, yang dikenal dengan tekniknya yang dan modern.
Kemudian datang Viscral, membawa sound brutal death metal yang lebih mentah dan savage mewakili gelombang lanjutan atas ekstremitas dari Indonesia.
Kehadiran mereka bukan sekadar tampil. Itu adalah validasi bahwa skena Indonesia mampu berdiri sejajar dengan band dari Amerika, Eropa, dan Amerika Latin wilayah yang selama ini mendominasi brutal death metal.

Giliran Death Vomit dan Jasad
Kini, tongkat estafet itu berlanjut. Dua nama baru dari Indonesia akan menginjakkan kaki di Death Feast Open Air, Death Vomit, legenda death metal Jogja yang sudah eksis sejak akhir 1990-an, dikenal dengan sound old school yang konsisten dan loyalitas skena yang luar biasa.
Jasad, ikon brutal death metal Bandung yang reputasinya sudah diakui global, dengan kombinasi sound brutal dan identitas lokal yang kuat.
Masuknya mereka ke lineup Death Feast Open Air bukan kebetulan. Itu hasil dari puluhan tahun konsistensi, rilisan, dan jaringan underground yang sudah dibangun.
Kenapa Ini Penting Buat Skena Indonesia?
Tampil di Death Feast Open Air bukan sekadar pencapaian personal band. Ini punya dampak lebih besar, membuka pintu tur Eropa, meningkatkan exposure global, memperkuat reputasi skena Indonesia, membuktikan bahwa Asia Tenggara adalah kekuatan nyata dalam brutal death metal.
Secara global, Indonesia sudah lama dikenal sebagai salah satu basis death metal paling aktif. Bahkan komunitas metal internasional sering menyebut band seperti Jasad sebagai bagian penting dari skena ekstrem Asia.
Baca Juga: Mariontopsy Siapkan Album Debut “O Luna Vile” Dirilis Label Spanyol!
Dari Andernach, Dunia Mendengar
Death Feast Open Air adalah bukti bahwa brutal death metal masih hidup, masih berkembang, dan masih punya rumah. Dan fakta bahwa band Indonesia terus muncul di lineup festival ini menunjukkan satu hal yang jelas, Indonesia bukan lagi “scene lokal.” Indonesia adalah bagian dari peta global brutal death metal.
Dan Andernach, Jerman, kini jadi salah satu saksi bahwa suara dari Jakarta, Bekasi, Bandung, dan Jogja, bisa menggema sampai ke pusat ekstremitas dunia.