Vokalis Counterparts Marah! Buntut Kelakuan Broken Avenue, Band AI di Spotify


Metalgear Music – Pernah dengar nama band Broken Avenue? Kalau belum, wajar aja sih. Soalnya, band ini bukan muncul dari skena, bukan juga hasil perjuangan manggung dari kota ke kota. Broken Avenue diduga cuma “produk digital” hasil AI, dibuat bukan untuk berkarya, tapi untuk menggerus royalti band-band kecil yang benar-benar hidup dari musik.

Broken Avenue Band AI yang Raup Keuntungan Digital

Faktanya cukup bikin geleng-geleng kepala. Broken Avenue saat ini mengantongi sekitar 127 ribu pendengar bulanan di Spotify, nongkrong di banyak playlist, bahkan sampai punya halaman “This Is Broken Avenue” buatan Spotify sendiri. Musiknya? Disebut-sebut menjiplak habis gaya Knocked Loose, Counterparts, sampai The Devil Wears Prada. Terang-terangan, tanpa malu.

Brendan Murphy vokalis Counterparts muak dengan band AI Broken Avenue. (Foto: Morecore.de)

Ironisnya, semua ini terasa “biasa saja” kalau bicara soal Spotify. Platform ini sudah lama dikritik karena dianggap kurang peduli pada musisi sungguhan. Situasinya makin absurd ketika mayoritas “popularitas” Broken Avenue diduga berasal dari playlist hasil kurasi AI, bukan pendengar organik.

Masalahnya bukan cuma di musik. Visual mereka juga ikut dipertanyakan. Sampul rilisan Broken Avenue terlihat seperti versi AI dari artwork band lain. Coba hitung sendiri, ada berapa banyak variasi aneh dari artwork album terbaru Knocked Loose – You Won’t Go Before You’re Supposed To yang berseliweran?

Brendan Murphy, Vokalis Counterparts Pertanyakan Keaslian Broken Avenue

Kegeraman pun muncul dari musisi yang merasa dirugikan. Brendan Murphy, vokalis Counterparts, sampai meluapkan emosinya di Twitter. Ia bahkan menulis, “$100 untuk siapa pun yang bisa kasih gue kontak valid James Trolby. Gue nggak bakal ngelakuin hal gila, kalian nggak akan kena masalah.”
Masalahnya, sampai sekarang belum jelas James Trolby itu orang sungguhan, nama samaran, atau cuma lapisan lain dari proyek abu-abu ini?

Dan di sinilah poin besarnya. Kalau tidak ada yang menghentikan praktik semacam ini, masa depan musik bisa jadi suram, band palsu, artwork palsu, identitas palsu tapi uangnya tetap nyata. Sementara musisi yang benar-benar menulis lagu, rekaman, dan berkeringat di skena, cuma bisa gigit jari.

Musik seharusnya soal ekspresi dan perjuangan. Bukan sekadar algoritma yang meniru, lalu menguangkan karya orang lain.

Total
0
Shares
4 comments
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts