Stephanus Adjie Ungkap Rock In Solo 2026 Tidak Digelar di Benteng Vastenburg Lagi

Metalgear Music – Rock in Solo 2025 belum lama usai, tapi gaungnya masih terasa. Festival yang sudah berjalan lebih dari dua dekade ini kembali membuktikan satu hal penting, skena musik keras di Solo (dan sekitarnya) masih hidup, masih solid, dan masih punya basis penonton yang kuat.

Selama dua hari penyelenggaraan, Rock in Solo 2025 mencatat sekitar 16.000 pengunjung. Angka yang mungkin terdengar biasa buat festival raksasa, tapi punya makna besar di tengah situasi ekonomi, sosial, dan produksi event yang makin kompleks.

“Jumlah itu sangat kami syukuri di tengah situasi yang serba sulit,” ujar Stephanus Adjie, penggagas Rock In Solo dan vokalis Down For Life . Meski begitu, evaluasi tetap dilakukan dari berbagai sisi mulai dari mitigasi cuaca, penanganan sampah pasca acara, sampai urusan venue. Buat Rock in Solo, selesai acara bukan berarti selesai kerja.

Dua panggung utama Rock In Solo 2025. (Foto: Instagram/@masmahmud41)

Alasan Rock In Solo 2026 Tidak Digelar di Benteng Vastenburg

Selama ini, Benteng Vastenburg sudah seperti “rumah” bagi Rock in Solo. Lokasinya ikonik, historis, dan punya nilai emosional tersendiri. Tapi untuk ke depannya, ada kemungkinan besar Rock in Solo tidak lagi digelar di sana.

Masalahnya bukan soal cocok atau tidak cocok, tapi lebih ke urusan yang jauh lebih rumit. Benteng Vastenburg saat ini masih berada dalam sengketa kepemilikan antara beberapa pihak, termasuk pemerintah kota dan TNI AD. Situasi politik dan sosial di baliknya membuat posisi penyelenggara jadi serba sulit.

“Untuk tahun 2025 kemarin, 2 minggu sebelum acara, kami tiba-tiba diminta biaya 400 juta oleh Kodam Diponegoro TNI AD. Itu diluar biaya pembersihan dan perawatan. Pada tahun-tahun sebelumnya hanya itu yg kami tanggung. Biaya pembersihan dan perawatan itu juga puluhan juta. Tentu itu menjadi bahan pertimbangan kami,” terangnya.

Dari situ, wacana pindah venue bukan lagi sekadar opsi, tapi kebutuhan.

Baca Juga: Mariontopsy Siapkan Album Debut “O Luna Vile” Dirilis Label Spanyol!

Venue Baru, Tantangan Baru

Soal venue baru, Rock in Solo tidak asal pilih. Pertimbangan teknis, kapasitas, kenyamanan penonton, dan tentu saja biaya, semuanya masuk meja diskusi. Venue yang dipertimbangkan punya kapasitas relatif setara dengan Benteng Vastenburg, tapi dengan karakter yang berbeda.

Down For Life saat tampil di Rock In Solo 2025. (Foto: Down For Life)

Perubahan lokasi jelas membawa konsekuensi. Tata panggung, alur penonton, sampai detail pengalaman festival pasti menyesuaikan. Tapi satu hal yang ditegaskan roh Rock in Solo tidak akan berubah.

“Kalau konsep secara keseluruhan bisa dikatakan sama sesuai dengan karakter dan marwah Rock in Solo yang sudah berlangsung selama 21 tahun. Tentu ada perubahan tata letak, alur penonton dan lainnya yang menyesuaikan venue yang baru. Tapi pengalaman dan atmosfernya tetap seperti halnya Rock in Solo sebelumnya. Meski tentu dengan venue baru pasti ada rasa yang berbeda,” ungkapnya

Baca Juga: Hazar Luncurkan Album Debut “Minor Dramatic” Siap Menghajar Skena Hardcore

Rock in Solo Punya Cara Pandang Sendiri Memilih Band

Di saat banyak festival berlomba-lomba jual nama besar, Rock in Solo justru punya sudut pandang yang agak berbeda. Bagi mereka, inti dari festival ini bukan sekadar band internasional atau lokal yang tampil, tapi penontonnya sendiri.

“Sebenarnya hal yg utama di Rock in Solo bukanlah line up baik internasional maupun lokal. Tapi penontonlah yang menjadi denyut nadi dan hal terpenting karena merekalah pembuat dan bagian dari sejarah Rock in Solo. Kami berusaha memberikan penampil atau line up terbaik sesuai kemampuan dan kapasitas kami. Sesuai dengan jadwal dan kemampuan finansial juga yang tentunya menghitung banyak hal terutama harga tiket yang terjangkau dengan penonton Rock in Solo,” jelasnya.

Band death metal asal Jerman saat meramaikan panggung Rock In Solo 2025. (Foto: Instagram/@mugi.screamo90.

Bukan Mau Paling Besar, Tapi Mau Lebih Baik

Apakah ke depan Rock in Solo akan menambah hari, panggung, atau segmen khusus? Semua itu masih mungkin, tapi tidak bisa diputuskan sembarangan. Biaya produksi, dukungan sponsor, kondisi ekonomi, sampai situasi sosial-politik semuanya saling terkait.

Yang jelas, Rock in Solo tidak pernah punya ambisi untuk jadi yang paling besar atau paling heboh.

Baca Juga: Alex Terrible, Slaughter To Prevail Ngaku Gaya Sangar Cuma Pencitraan

Rock In Solo 2026 akan umumkan venue terbaru. (Foto: Instagram/@rockinsolofestival)

“Kami ingin setiap Rock in Solo jadi lebih baik dari sebelumnya, dan menjadi versi terbaik yang bisa kami capai sesuai kapasitas kami, lebih dari sekadar festival, Rock in Solo ingin terus jadi ruang bersama yang membawa manfaat dan berkah buat banyak orang,” tutupnya

Ke mana pun lokasinya nanti, satu hal pasti Rock in Solo akan terus berjalan. Pelan, konsisten, dan setia sama akarnya. Kita tunggu kejutan selanjutnya.

Total
0
Shares
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts